Pola Konsumsi dan Permintaan Protein Hewani di Kota Malang Model Almost Ideal Demand System (AIDS)

Muhammad Faishal Farras, Ratya Anindita, Rosihan Asmara

Abstract


Total konsumsi protein hewani Indonesia masih tertinggal dari negara lain di ASEAN. Tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia hanya mencapai 8% dari total konsumsi pangan. Salah satu indikator yang dapat dilihat dari rendahnya tingkat konsumsi protein adalah bayi pendek. prevalensi bayi pendek meningkat dari 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada 2017. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi dan permintaan protein hewani yaitu daging sapi, ayam, telur , susu dan ikan di Kota Malang dan untuk Mengetahui elastisitas permintaan protein hewani di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan fungsi permintaan Almost Ideal Demand System (AIDS) dengan metode Seemingly Unrelated Regression (SUR). Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pola konsumsi dan permintaan protein hewani di Kota Malang ada harga sendiri, pendapatan, dan faktor sosiodemografi yang mempengaruhi permintaan adalah jumlah anggota rumah tangga, usia kepala rumah tangga, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan kepala rumah tangga. Elastisitas harga dari permintaan menunjukkan bahwa komoditas protein hewani di Malang inelastis, elastisitas pendapatan menunjukkan barang normal, dan elastisitas silang menunjukkan bahwa komoditas ini saling substitusi.


References


Anindita, R. (2008). Pendekatan Ekonomi Untuk Analisis Harga. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.

Adawiyah, R. T. (2017). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi Bahan Pangan Sumber Protein Hewani Asal Ternak di Kecamatan Kuala Jambi Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Badan Pusat Statistik. (2018). Consumption Expenditure of Population of Indonesia by Province: Based on The September 2018 Susenas, (September), xii+136.

Badan Pusat Statistik Kota Malang. (2018). Badan pusat statistik kota malang.

Deaton, A., & Muellbauer, J. (1980). An Almost Ideal Demand System. The American Economic Review, 70(3), 312–326. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/1805222%5Cn

Dey, M. M. (2000). Analysis of demand for fish in Bangladesh. Aquaculture Economics and Management, 4(1–2), 63–81. https://doi.org/10.1080/13657300009380261

Hadini, H. A., Ba’a, L. O., Aka, R., & Syamsuddin. (2017). Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Terhadap Konsumsi Pangan asal Ternak di Kota Kendari. Jitro, 4(2), 62 71.

Hartomo, G. (2018). Konsumsi Daging, Telur hingga Susu Orang RI Kalah Jauh dari Malaysia. Retrieved from https://economy.okezone.com/read/2018/07/04/320/1917805/konsumsi-daging-telur-hingga-susu-orang-ri-kalah-jauh-dari-malaysia

Kemenkes. (2018). Buletin Stunting. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 301(5), 1163–1178.

Maula, L. R., Anindita, R., & Syafrial, N. (2019). Estimasi Permintaan Daging Sapi di Provinsi Jawa Timur dengan Model Sistem Pengeluaran Linier. Jurnal Agro Ekonomi, 37(1), 47. https://doi.org/10.21082/jae.v37n1.2019.47-60

Maziyya, P. A., Sukarsa, I. K. G., & Asih, N. M. (2015). Mengatasi Heteroskedastisitas Pada Regresi. E-Jurnal Matematika, 4(1), 20–25.

Pusposari, F. (2012). Indonesia Analisis Pola Konsumsi Pangan Masyarakat di Provinsi Maluku. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Suryanty, M., & Reswita, . (2016). Analisis Konsumsi Pangan Berbasis Protein Hewani Di Kabupaten Lebong: Pendekatan Model Aids (Almost Ideal Demand System). Jurnal AGRISEP, 15(1), 101–110. https://doi.org/10.31186/jagrisep.15.1.101-110

Tiffin, R., & Arnoult, M. (2010). The demand for a healthy diet: Estimating the almost ideal demand system with infrequency of purchase. European Review of Agricultural Economics, 37(4), 501–521. https://doi.org/10.1093/erae/jbq038


Full Text: PDF

DOI: 10.21776/ub.jepa.2021.005.02.01

Refbacks



Copyright (c) 2021 J E P A

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

ISSN: 2598-8174